musisi arab jono terbakar menyanyikan lagu tualang

Tualang Dalam Perjalanan Ma’rifat Jono Terbakar

Selepas bertugas sebagai bapak rumah tangga, memandikan anak-anak, aku menyelah motorku menuju perhelatan tak lazim kawan lamaku, Jono Terbakar. Kusebut tak lazim karena hari itu, Senin tanggal 2 Juni 2025, di saat semua orang masih berjibaku dengan macetnya jalanan selepas pulang kerja, Jono Terbakar malah bertualang ke markas Cherry Pop. Alih-alih bersilaturahmi, dia mengadakan gigs ba’da Ashar.

Satu hari sebelum acara tersebut, kami sempat bertemu di basecamp Olski. Dia memang baru pulang ke Jogja karena ada tugas penelitian dari kantornya, makanya menyempatkan waktu untuk memainkan sebuah pertunjukan. Di basecamp, selain aku, ada juga mas Diki yang memang sudah ada jadwal untuk bertemu dengan Jono Terbakar. Niat awal meminjam gitar, berlanjut jadi obrolan panjang. Seperti obrolan dewasa pada umumnya, basa-basi tentang kabar dan kesibukan, sakit pinggang dan Zamatera, berujung hingga kehidupan spiritual. 

BACA JUGA: “WIS” – Lagu Kesedihan yang Lahir dalam Semalam

Dalam obrolan itu, aku melihat  bagaimana Jono memiliki perjalanan panjang mendalami spiritualitas kehidupannya. Sekitar tahun 2012, dia sempat hilang dalam peredaran skena di Jogja. Bahkan, pria lulusan Universitas Gadjah Mada itu sempat disebut sebagai mitos di kalangan skena musik Kota Pelajar.

Jono Terbakar lantas bercerita tentang pengalamannya mengikuti beberapa kelompok pengajian hingga sempat mendoktrinnya, bahwa musik itu haram. Namun, batin Jono ternyata goyah. Dia memutuskan untuk kembali lagi bermusik. Jono merasa bahwa ada nalar yang membuat musik itu haram dalam keadaan tertentu, tapi juga menjadi obat atau penenang bagi beberapa orang.

Misalnya, di tahun 2014, Jono Terbakar bercerita tentang lagu ciptaannya berjudul ‘Ranu Kumbolo’, yang juga menjadi salah satu lagu favoritku, ternyata berhasil menghidupkan kembali semangat orang yang tidak dikenalnya. Dalam ceritanya, Jono yang sedang berada di sebuah rumah sakit di Jogja, tiba-tiba mendapatkan ucapan terima kasih atas karya itu. Penggalan lirik ‘Mati juga kehidupan…’ di lagu ‘Ranu Kumbolo’ inilah yang menemani orang tersebut melewati masa-masa berat menjaga pasangannya di waktu kritis hingga akhirnya tiada.

Belakangan, Jono juga giat mengikuti beberapa forum spiritualitas yang dibimbing oleh Abah Isa, seorang filsuf muda yang mengajarkan tentang mindfulness dalam hidup. Secara garis besar, Abah Isa mengajarkan tentang bagaimana hidup itu bisa berjalan lebih baik dan seimbang dengan kedamaian yang sudah terbentuk.

BACA JUGA: Merayakan 28 tahun Shaggydog Rilis Album Live at Milli

Selain ikut di forum ini, dia juga belajar ke beberapa padepokan dan tempat spiritual lainnya. Saya tahu betul bahwa Jono Terbakar adalah orang yang memiliki keingintahuan yang besar. Tasawuf merupakan metode yang selalu dia terapkan untuk melihat sesuatu dengan prespektif lebih dalam. Oleh karenanya dia melakukan banyak hal tersebut, sebagai pemuas rasa penasarannya untuk menemukan sumber yang paling valid.

Kembali ke momen obrolan santai sore itu, Jono Terbakar sudah membawakan beberapa lagu ciptaannya yang memang dikenal sederhana dan begitu dekat dengan kehidupan. Mungkin ada sekitar 8 sampai 9 yang dialunkannya, dimana setiap 1 lagu yang dibawa, Jono selalu bercerita panjang lebar terkait makna dari lagu tersebut.

Kuakui dia memang pencerita ulung dengan selera komedi yang cukup baik. Setidaknya bagiku. Aneh memang. Matahari beringsut pelan ke ufuk barat, hingga perkumpulan ini mencapai puncaknya saat Jono Terbakar membawakan lagu ‘Tualang’. Salah satu mahakarya terbesar dari Jono Terbakar. 

Lagu ini menurutku sangat sentimentil. Dimana setiap penggalan liriknya benar-benar menggambarkan apa yang Jono jalani selama hidupnya. Setiap verse yang dimulai kata ‘Pernahkah’, seperti sebuah pertanyaan yang berdasar pada keingintahuan dia melihat apapun itu. Lalu dilumat dengan halus semua pertanyaan itu dibagian reff, bahwa apa yang kamu lakukan untuk mencari jawaban dari keingintahuan itu bukan semata-mata tentang penghargaan saja, tapi supaya kamu bisa melihat apapun dari prespektif yang berbeda.

Yahhh.. memang sudah seharusnya juga seperti itu. Dasar manusia memang harus terus belajar dan mencari sesuatu agar menjadi lebih tahu dalam banyak urusan. Bukan untuk mencari siapa yang menang dan kalah, tapi supaya kamu bisa menjadi damai dalam jalan pikiranmu seperti perjalanan ma’rifat yang dilakukan Jono Terbakar. “Rahayu, Rahayu, Rahayu”, Tutupnya sore itu.

WhatsApp
Facebook
Twitter
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya