JENNY, Band dari Masa Depan

Kalaupun kamu mati muda, paling tidak sekali seumur hidup kamu harus menonton pertunjukan Jenny, walaupun harus pindah ke masa lalu dengan mesin waktu.

Jenny dalam pikiran banyak orang mungkin adalah seorang wanita yang menari bersama 3 rekan wanitanya yang lain di panggung mewah dan megah. Tapi Jenny yang ini bukan tentang mereka yang dari Korea itu, tapi sebuah band yang akhir-akhir ini sering disebut “band mitos” oleh banyak orang.

Kalau kamu tahu FSTVLST, Jenny adalah cikal bakal dari band beraliran ‘almost rock ballery art’ tersebut. Perubahan mereka dimulai setelah drummer dan bassis mereka, Anis Setiadji serta Arjuna Bangsawan mengundurkan diri. FSTVLST hadir mengganti Jenny bersama 2 personil lamanya Farid Stevy dan Robby Setiawan ditambah Humam Mufid Arifin (bass) dan Danish Wisnu Nugraha (drum).

Jenny pun akhirnya tertidur lelap.

Sekitar tahun 2015 berselang 5 tahun mereka tertidur, panggilan dari almater sepertinya tidak bisa mereka tolak. 10 tahun ‘Rock Siang Bolong’ atau sering disebut ROCKSI menjadi pemicu bangunnya mereka dari tidur lama. ROCKSI sendiri adalah acara musik yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta. Saya sempat hadir dalam gelaran ini. Bersama kawan-kawan lamanya seperti Sangkakala, Cangkang Serigala dan banyak lagi. Panggung yang kecil namun masih dengan energi dan euforia yang sama.

Setelah itu, Jenny kembali hibernasi.

8 tahun berselang, Cherrypop 2023 mengumumkan line up. Sebagai festival yang sering menghidupkan lagi band-band mitos, banyak orang berharap Jenny juga masuk dalam line up nya. Dan benar, Jenny muncul. Tidak main-main, dia menjadi perform terakhir di hari ke 2, dan sebagai penutup festival itu. Saya masih ingat waktu itu memang bertugas untuk mengisi aktivasi booth Mojok.co di Cherrypop 2023. Malamnya saya harus pindah tempat dulu karena harus manggung bareng Olski. Selesai perform, saya kembali ke Asram untuk menonton Jenny. Repot tapi senang melihat kembalinya band ini. ‘Menangisi Akhir Pekan’ menjadi anthem malam itu dan ditutup dengan ‘Mati Muda’. Choir terbentuk dengan balutan crowd surfing.

Panggung Jenny berlanjut ke beberapa festival, tidak sering tapi cukup dinanti. Empat karib ini mengumumkan hanya akan manggung 2 kali dalam satu tahun.

2025 ini, mereka sudah manggung di Solo. Masih ada kesempatan satu kali lagi mereka perform. Tidak disia-siakan. Bersama Cherrylive mereka akan kembali ke tempat dimana album mereka, Manifesto dirilis, Jogja Nasional Museum. Selain itu mereka juga merilis ulang album ini dalam bentuk kaset dan vinyl berkolaborasi dengan Bojakrama Press. Tidak lama setelah diumumkan,  tiket langsung ludes terjual. Perform mereka dibuka oleh The Skit, emerging artist dari Solo.

Anak-anak muda—yang mungkin usianya jauh di atas empat karib ini—berbondong-bondong datang menonton para om-om ini. Kebanyakan dari mereka, kulihat, mungkin kelahiran tahun 2000-an. Tapi tampak hafal menyanyikan “120”, “Monster Karaoke”, “Maha Oke”, dan lagu-lagu lainnya. Mereka melompat, crowd surfing, larut dalam dentuman dan lirik seolah tumbuh besar bersama lagu-lagu itu.

Di belakang, berdiri mereka yang tampaknya lebih dulu mengenal Jenny—orang-orang yang menyanyi tipis sambil bersedekap, tersenyum melihat bayangan masa lalu mereka menari di tubuh-tubuh muda yang kini bergelora di depan. Aku yakin, sebagian dari mereka ingin ikut crowd surfing juga. Tapi boyok sudah tidak seperti dulu. Begitu juga aku.

Jenny, mungkin memang hadir dari masa depan. Saat aku pertama kali menonton mereka—entah tahun 2009, 2010, atau 2011—rasanya seperti sedang bertemu dengan sesuatu yang aneh tapi akrab. Sejak awal, Jenny sudah membawa rasa nostalgia yang belum sempat kami alami, tapi entah bagaimana terasa dekat.

Kini, saat melihat anak-anak muda itu merasakan hal yang sama, aku sadar: Jenny memang seperti tahu betul apa yang akan kita rasakan suatu hari nanti.

Seolah-olah Jenny yang kulihat belasan tahun lalu adalah Jenny yang datang dari masa depan, menyapa kita, “Hai, aku Jenny. Band dari masa depan. Kelak, aku akan kembali merilis album ini dalam bentuk fisik, dan akan ada pertunjukan lagi di tempat yang sama. Mari rayakan akhir pekanmu bersama kami—kita akan berjumpa lagi, dan kenangan itu akan terasa baru kembali.”

WhatsApp
Facebook
Twitter
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya