Een Verhaal in de Tijd, Magisnya Korekayu

Dimulai dengan opening bumper Roei no Uta, sebuah lagu militer Jepang, dibarengi visual Kyokujitsu-ki — Bendera militer jepang. Mereka masuk menggunakan Gakuran. Setelahnya, semua dibawa menuju ruang baru Korekayu.

Saya mengenal Korekayu mungkin hampir 1 dekade yang lalu. Pertemuan itu melalui perantara single  “Di Bawah Tangga”. Sebuah lagu milik Korekayu yang membawa saya pada lingkungan baru, sebuah kampus di Kota Yogyakarta bernama Universitas Sanata Dharma (USD). Single ini bercerita tentang sebuah sudut di kantin Realino yang lokasinya tepat di bawah tangga. Titik tersebut merupakan melting pot untuk menghabiskan masa muda dengan rokok, kisah asmara dan ‘mungkin’ sebotol alkohol.

Belakangan, lagu “Di Bawah Tangga” muncul di mini album Retrotika Metropolitan bersama dengan 4 lagu lain. Olski–band yang saya gawangi–sempat ikut membawakan lagu ini. Kolaborasi ini terjadi saat mereka menggelar showcase di depan Pohon Beringin Soekarno Sanata Dharma. Olski menjadi pembuka di show tersebut. 

Lingkungan kampus Sanata Dharma yang terkesan klasik dengan gedung-gedung lawasnya sepertinya cukup memberikan pengaruh untuk Korekayu. Paling tidak menurut saya membentuk karakter musik mereka: Klasik, Lawas, atau Retro. Kata itu melekat pada Korekayu. Seperti yang mereka akui bahwa The beatles dan Naif adalah inspirasinya. 

Tak lama setelah show tersebut, Korekayu merilis album full pertama. Album ini hadir saat pandemi Covid-19 muncul pada tahun 2020. Sayang sekali, kondisi itu memaksa untuk semuanya berhenti. Tidak ada perayaan, tidak ada show layaknya sebuah album meluncur. Semua terhenti. 

Album penuh itu berjudul Romansa. Berisi 11 lagu dengan suasana retro yang masih masih terasa. Nomor berjudul “Pasar malam” menjadi sebuah hal baru. Bukan karena lagu ini featuring dengan Olski. Bukan. Tapi karena progresi chord lagu tersebut berbeda dengan lagu-lagu lain di album tersebut yang menyesuaikan range vocal Dea, sang vokalis. Itu juga pertama kalinya mereka featuring untuk sebuah lagu.

Narasi Verhaal Korekayu

Terbaru, selang 5 tahun dari album Romansa, Korekayu kembali meluncurkan album dengan tajuk Verhaal. Ada 12 Lagu di album ini. Verhaal muncul dengan konsep visual yang cukup berani. Mereka bereksperimen dengan sebuah foto. Seorang pria berdandan jepang, duduk disebuah kursi membawa sebuah buku. Foto tersebut memberikan kesan yang cukup dalam dan syarat makna tentang eksplorasi terbaru Korekayu.

“Verhaal” dalam bahasa Belanda artinya cerita atau kisah dalam bahasa Indonesia. Sebuah kisah yang Korekayu narasikan. Mereka lebih siap dengan album ini. Korekayu menyiapkan acara hearing untuk mendengar pertama kali karya mereka. Lalu,  ARTJOG memberikan ruang pada mereka untuk mempresentasikan karya tersebut secara live.

Saya masih ingat betul ketika sedang berselancar di Instagram sebelum pertunjukkan mereka di ARTJOG. Korekayu mengunggah sesuatu di stories-nya. Mereka sepertinya menyiapkan sesuatu. Sebuah video potongan brass section yang memainkan sebuah lagu. Belum jelas di lagu apa, tapi bikin penasaran. 

Tak lama kemudian visual poster mereka juga muncul. Warna coklat bernuansa retro dengan huruf kanji Jepang, Bunga Sakura, dan logo matahari terbit. Poster ini bikin saya makin penasaran.

Magis Korekayu di Panggung ARTJOG

Panggung ARTJOG mulai penuh sejak jam 19.00 pada Kamis (8/8/2025). Saat itu, Korekayu dijadwalkan naik panggung jam 21.00. Saya bersama keluarga datang lebih awal untuk menjadi saksi pertunjukkan band dari Universitas Sanata Dharma ini.

Tepat pukul 21.00 Korekayu mulai naik panggung. Additional player mulai naik. 3 laki-laki berbaju putih dengan dasi kupu-kupu kemudian menyusul, masing-masing membawa saxophone, terompet, dan trombone. Posisi mereka ada di sebelah kanan drum.

Kemudian, di sisi yang berlawanan, ada 2 perempuan menggunakan seifuku—seragam perempuan jepang, dan laki-laki mengenakan baju putih dan dasi kupu-kupu membawa buku ala pelajar jepang. Mereka bertugas menjadi backing vocal. Di depan drum, gitaris Olski, Dicki Mahardika juga menjadi bagian pertunjukan ini dengan gitar akustiknya. 

Bumper mulai muncul, para personil Korekayu yang terdiri dari Alfonsus Kriswandaru (vokal), Bondan Jiwandana (gitar), Lukas Ingheneng (gitar), Bagas Raharjo (bas), Yustinus Cahyadi (keyboard), dan Alvin Yudha (drum) muncul menggunakan gakuran. Sempat ada kendala teknis saat penayangan bumper namun segera teratasi. Visual-visual dengan bahasa Jepang menjadi pembeda. Tidak terkesan menjadi wibu, tapi malah memberikan sesuatu yang baru untuk Korekayu sendiri. 

Total 11 lagu mereka libas. “September” menjadi anthem. Gimmick mainan orog bambu juga hadir seperti biasa bersama dengan penonton. Dan di lagu mereka yang terakhir “Terserah Maumu”, Indra Prasta dan Iwan Tanda  dari The Rain tiba-tiba masuk dan ikut menyanyikan lagu ini di pertengahan lagu.

“Terserah Maumu” adalah single Korekayu featuring The Rain yang menjadi pembuka Album ‘Verhaal’. Lagu ini untuk pertama kalinya mereka bawakan bersama secara live. Setelah itu, panggung ditutup dengan choir “Hey Jude” bersama penonton yang hadir malam itu.

Magis. begitulah kira-kira. Malam itu sangat hangat dan berkesan bagi penonton. Saya berjabat tangan dengan para personel Korekayu di akhir acara. Raut wajah lega dan puas terlihat. IG story mereka penuh repost. Selamat, Korekayu telah berevolusi. Satu saja pesan dariku: “Tulung LED ne dikei lirik tur ojo bahasa jepang, aku sing ra gampang apal yo pengen melu nyanyi hehehe”.


WhatsApp
Facebook
Twitter
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya