Di tengah geliat skena musik alternatif Indonesia, sebuah nama baru mulai muncul: Catzy. Band muda asal Pekalongan ini bukan sekadar hadir untuk ikut-ikutan. Mereka datang membawa semangat, keresahan, dan dentuman suara keras yang terangkum dalam album debut mereka bertajuk “Live and Loud”, yang akan dirilis pada 20 Juli 2025 lewat Elbuba Records.
Band yang digawangi oleh Shofia (vokal), Maruf (gitar), Syauqi (bass), dan Hakim (drum) ini memulai perjalanan musik mereka baru setahun yang lalu. Namun dalam waktu yang singkat, Catzy sudah merilis dua single: Bad Better dan Hell’o. Lagu terakhir ini bahkan jadi pembuka dari rangkaian menuju album penuh mereka. Dengan gaya vokal Shofia yang centil namun menyimpan tenaga, “Hell’o” jadi semacam pernyataan: Catzy bukan band sembarangan.
“Lagu itu membahas hal-hal spiritual, tentang keinginan-keinginan manusia terhadap ‘pemberi’, siapa pun itu,” ujar mereka tentang makna di balik “Hell’o”. Liriknya mungkin terdengar ringan, tapi tema yang mereka usung punya kedalaman yang mencengangkan untuk band semuda ini.
Merekam Kegelisahan, Menyuarakan Energi Positif
Album Live and Loud berisi enam lagu yang direkam di Ruang Tengah Studio, Pekalongan, dengan sesi rekaman drum dilakukan di Winsome Studio, Solo. Selain dua single yang telah lebih dulu dirilis, album ini juga memuat empat lagu baru: Kill ‘em All, Back to Home, Nervous, dan satu lagu berbahasa Indonesia berjudul Utara. Lagu “Utara” jadi semacam anomali yang menyenangkan—liriknya sederhana tapi menguatkan: “berangkatlah menuju utara, bawa hati selalu tetap gembira.”
Judul album Live and Loud sendiri dipilih bukan tanpa alasan. “Kami ingin tetap bersuara keras—entah soal agama, sosial, atau apapun yang kami rasakan,” ungkap Catzy. Bagi mereka, musik adalah pelampiasan. Wadah untuk rasa gelisah, dan kadang juga harapan.
Musik Catzy berada di garis tengah antara pop punk yang enerjik dan hardcore yang meledak-ledak. Ada breakdown yang berat ala band keras, tapi juga melodi vokal catchy dan lirik-lirik ringan yang mudah singalong. Mereka menyebut band-band seperti Black Sabbath, Scowl, Blitz, dan Dead Sara sebagai referensi, yang kemudian mereka racik menjadi identitas sendiri.
Di balik musik yang terdengar riuh, ada kisah personal yang turut mewarnai proses kreatif album ini. Salah satu yang paling tak terlupakan adalah saat sang vokalis, Shofia, harus masuk IGD tengah malam saat sesi rekaman sedang berjalan. “Kami sempat berhenti take karena kondisi kesehatan Shofia drop. Tapi itu juga jadi bagian dari cerita album ini,” kenang mereka.
Tema-tema dalam “Live and Loud” memang tidak disusun secara naratif dari awal ke akhir. Setiap lagu berdiri sendiri dengan ceritanya masing-masing, mulai dari rasa gugup tampil di panggung dalam lagu Nervous (“Freeze, my body and couldn’t sing, but keep standing in the stage”), hingga rasa hangat pulang ke rumah dalam Back to Home. Tapi justru dari ketidakteraturan itulah Catzy merasa album ini menjadi cerminan jujur dari mereka: muda, liar, tapi penuh energi yang tak bisa dibendung.
Artwork album ini digarap oleh Khairur Rizqa aka Badfoo, seorang tattoo artist dan ilustrator asal Yogyakarta. Dengan gaya yang kasar dan berkarakter, Badfoo menerjemahkan visi Catzy ke dalam cover art yang keras dan nyaring—seperti suara Catzy sendiri.
Album Live and Loud akan segera hadir di semua layanan streaming digital. Dan setelahnya? Catzy siap membawa suara kerasnya keliling kota lewat promo tour dan showcase, yang infonya bisa dipantau melalui akun Instagram mereka di @catzy.lazy.





