Ketika Suara Masa Lalu Menggema Kembali: Cerita di Balik “Karam” dari Raw Theory

Di suatu malam yang tampak biasa di Yogyakarta, Ahmad Ali tengah mengisi panggung kecil di sebuah kafe. Seperti biasanya, ia menyanyikan lagu-lagu favoritnya, berusaha menjangkau satu per satu telinga yang hadir di ruangan itu. Namun tanpa ia duga, malam itu menjadi titik mula sebuah cerita yang jauh lebih besar dari sekadar penampilan rutin.

Di antara penonton, ada satu wajah yang mulai akrab: Rendi Derainway, sosok di balik DRW Legacy, manajemen artis yang baru saja lahir di kota yang sama. Rendi bukan sekadar penikmat musik. Ia mendengar lebih dari sekadar melodi—ia menangkap potensi. Dan dari pertemuan tanpa rencana itu, lahirlah ide untuk membentuk sebuah band: Raw Theory.

“Awalnya aku cuma ngamen aja, Mas Rendi sering nonton. Lama-lama ngobrol, makin nyambung, terus dia kasih tawaran,” kenang Ahmad Ali. Bukan tawaran biasa. Rendi ingin menciptakan sesuatu dengan nuansa sound design era 90-an. Formatnya: sebuah band. Jiwa Ahmad pun langsung terpanggil.

Tak lama setelah itu, draft lirik dikirim. Masih mentah, tapi sudah cukup menggugah. Ahmad tak menunggu waktu lama—malam itu juga, ia duduk sendiri dengan gitar akustiknya, merekam ide-ide awal melalui voice note seadanya. “Yang penting kebaca dulu: mana versenya, mana reff-nya,” katanya.

Responnya cepat: Rendi menyukai hasilnya. Lalu mereka sepakat, lagu ini harus jadi. Dan di situlah, “Karam” lahir.

Dari Laut yang Bercerita ke Nada yang Menyuarakan

Lagu “Karam” bukan hanya tentang musik. Ia adalah nyanyian sunyi dari masa lalu yang masih relevan hari ini. Terinspirasi dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, lagu ini membawa kembali kisah-kisah pilu para aktivis mahasiswa yang lenyap di era Orde Baru. “Tema ini nggak pernah usang,” ujar Rendi. “Dan beberapa waktu terakhir, mulai banyak disorot lagi.”

Dalam “Karam”, Ahmad menyuarakan kehilangan dan keberanian. Dalam liriknya tersembunyi luka sejarah, dan dalam aransemennya terpatri semangat rock 90-an—energi yang keras namun jujur. Bersama dua nama lain, Rimanda Sinaga (gitar) dan Akbar Gober (drum), Raw Theory pun resmi terbentuk. Visi mereka sama: menggali suara-suara lama dan membungkusnya dalam semangat baru.

Sebuah Awal dari Banyak Rencana

Proses rekaman dilakukan di Seven Dragons Studio, milik Rimanda sendiri, sementara sentuhan akhir mixing dan mastering dipercayakan pada Achmad Gufron dari AG Recorder. Kini, “Karam” telah bisa dinikmati di berbagai platform digital sejak 30 Juni 2025. Video klipnya pun menyusul, tayang perdana di kanal YouTube Raw Theory pada 11 Juli.

Tapi ini baru permulaan.

Ahmad, Rimanda, dan Akbar telah menyusun tujuh lagu baru. DRW Legacy menargetkan rilisan EP atau bahkan album penuh pada akhir tahun nanti. Showcase juga sudah masuk agenda. Mereka tidak hanya ingin didengar, tapi ingin menyampaikan sesuatu yang lebih dalam.

“Raw Theory bukan sekadar band,” kata Rimanda. “Kami ingin jadi pengingat, bahwa sejarah tidak untuk dilupakan. Dan musik bisa menjadi perantaranya.”

WhatsApp
Facebook
Twitter
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya