“Mirage”
Sebuah fatamorgana di tengah gurun suara—itulah yang coba dihadirkan oleh BABON lewat rilisan terbarunya. Lagu keempat ini tak memiliki lirik, tapi justru menyampaikan begitu banyak makna.
Sebulan lalu, BABON memperkenalkan kita pada semesta “Cacti Traveler”, sebuah pengantar dari album perdana mereka yang akan datang. Dan kini, mereka kembali melangkah lebih jauh, membawa kita menelusuri ilusi dan nostalgia dalam karya instrumental berjudul “Mirage”.
Namun “Mirage” bukan hanya tentang eksplorasi bunyi—ini adalah surat cinta untuk skena musik indie pop-rock Indonesia di awal tahun 2000-an. Masa-masa ketika band-band seperti The Adams, Sore, hingga White Shoes & The Couples Company menjadi suara hati generasi muda kota—penuh kerinduan, semangat DIY, dan mimpi besar yang lahir dari kamar sempit atau panggung kecil.
Bagi Rayi Raditia dan Wahyudi Raupp, dua komposer utama BABON, “Mirage” adalah ruang bermain antara masa lalu dan masa kini. Di dalamnya, kita bisa merasakan jejak Spaghetti Western yang khas, seolah melintasi padang tandus dalam film-film Ennio Morricone. Lalu muncul groove halus yang terinspirasi dari soul-funk modern seperti Surprise Chef—musik yang sering mereka dengarkan selama masa studi di Melbourne.
Dan di antara lapisan-lapisan itu, menyusup sentuhan khas Indonesia yang begitu familiar. Solo gitar dalam lagu ini, misalnya, mengingatkan kita pada atmosfer “Konservatif” milik The Adams—melankolis namun penuh daya dorong.
“Lagu-lagu kita sering jadi semacam tribut,” kata Rayi. “Untuk sejarah, untuk era tertentu, atau buat semua pengaruh musik yang membentuk kami dari dulu.”
Tapi “Mirage” bukan sekadar nostalgia. Lagu ini juga bicara tentang harapan yang memudar. Tentang dunia yang perlahan-lahan rusak, dan manusia yang terus mencari oase dalam bentuk apa pun—meski hanya fatamorgana. Dalam bayangan samar itu, BABON mengajak kita untuk terus melangkah. Bukan karena janji manis di ujung jalan, tapi karena ada dorongan kecil dari dalam diri yang tak bisa diabaikan.
Kini, “Mirage” sudah bisa kamu dengarkan di semua platform digital. Dan meski lagunya tak punya lirik, kamu tetap bisa ikut berdendang—dengan langkah kecil, dengan tubuh yang ikut bergoyang, atau dengan hati yang sedikit lebih ringan.





