Bayangkan sebuah sore di Melaka—angin pantai menghembus pelan, membawa aroma nostalgia dari masa-masa muda yang dulu penuh warna. Di sudut kota yang tenang, sekelompok musisi berkumpul, bukan hanya untuk memainkan nada, tapi juga untuk merangkai kembali cerita mereka yang sempat terhenti.
Itulah Moda Moody.
Band yang lahir dari semangat ska, reggae, dan indie rock ini memulai perjalanannya di tahun 2007, saat musik bukan sekadar hiburan, tapi bentuk ekspresi diri. Mereka adalah cerminan generasi yang tumbuh bersama musik—berteriak lantang soal persahabatan, pencarian identitas, dan suka-duka kehidupan sehari-hari.
Dengan lagu-lagu seperti Temanku, Tak Mengerti, Muda-Mudi, dan album penuh Dan Rudies Terus Menari yang mereka rilis di tahun 2009, Moda Moody sempat menjadi suara yang akrab di kalangan penggemar musik alternatif di Malaysia.
Lalu waktu berlalu.
Masing-masing menjalani hidup, dan mungkin sempat berpikir bahwa cerita ini sudah selesai. Tapi musik—seperti halnya kenangan—tak pernah benar-benar padam.
Kini, setelah hampir dua dekade, Moda Moody kembali. Mereka hadir dengan sesuatu yang lebih matang namun tetap penuh semangat. Sebuah EP berjudul Rekam Jejak. Lima lagu baru yang bukan hanya sekadar karya, tapi juga catatan perjalanan mereka sebagai musisi, teman, dan manusia.
Ada Rindu Dihembus Bayu, sebuah lagu yang menambahkan warna keroncong ke dalam ritme ska. Ada juga Bodoh, Gadisku di Lantai Tari, Ska dan Reggae, hingga Matahari. Semuanya adalah potongan-potongan cerita yang mereka kumpulkan sepanjang jalan.
Dalam prosesnya, mereka tak sendiri. Moda Moody menggandeng Denny Frust sebagai music director—sebuah kolaborasi lintas negara yang mempertemukan Malaysia dan Indonesia dalam semangat yang sama: musik yang jujur, merdeka, dan membumi.
Rilisnya EP Rekam Jejak di bawah label DoggyHouse Records bukan hanya momentum comeback. Ini adalah jembatan, sebuah salam lintas selat menuju para pendengar di Indonesia.
Tak berhenti di situ, Moda Moody bersiap menjejakkan kaki di tanah Jawa dan Bali, dalam tur promosi yang akan berlangsung Februari hingga Maret 2026. Dari Jakarta, Bandung, Purwokerto, Jogja, Solo, hingga Malang, Surabaya, dan Denpasar—mereka akan membawa kembali energi panggung yang lama dirindukan.
Bagi Moda Moody, Rekam Jejak bukan sekadar album. Ini adalah pengingat bahwa perjalanan belum usai, bahwa musik masih punya cara untuk menyatukan kita—meski waktu, jarak, dan kesibukan sempat membuatnya redup.
Dan kini, mereka kembali. Dengan suara yang mungkin tak lagi sekeras dulu, tapi lebih dalam. Lebih bermakna. Lebih hidup.





