“Jumat, Musik, dan Mimpi yang Kembali Hidup: Kisah Fraidé”

Di sudut kota Yogyakarta yang hangat dan penuh kenangan, ada empat pria yang memutuskan untuk menyalakan kembali api mimpi mereka yang sempat redup. Bukan karena mereka baru mengenal musik. Justru sebaliknya — mereka adalah Gie Seddon, Gilang Hermani, Kade Agus, dan Nano Rasendria — wajah-wajah yang pernah mengisi panggung-panggung lokal dengan semangat masa muda.

Namun waktu berjalan, hidup berubah. Ada keluarga yang harus dijaga, pekerjaan yang harus ditepati, dan rutinitas yang tak bisa dielak. Musik pun pelan-pelan tergeser ke sudut waktu. Tapi ada satu hal yang tak berubah: kerinduan untuk kembali bermain musik, bukan untuk ketenaran, tapi untuk menghidupkan kembali sisi mereka yang lama tertidur.

Dan dari kerinduan itu, lahirlah Fraidé.

Nama itu terdengar asing, tapi ada kehangatan yang menyertainya. Bukan nama hasil rapat panjang atau perhitungan branding rumit. Fraidé lahir dari kesederhanaan — dari hari Jumat, satu-satunya hari di mana keempatnya bisa bertemu, tertawa, dan bermusik bersama. Gilang yang pertama kali melontarkan ide nama itu, dan semuanya langsung sepakat. Bukan cuma karena waktu latihan, tapi karena hari Jumat punya makna yang lebih dalam: hari yang ditunggu, hari untuk pulang, hari untuk menemukan kembali diri sendiri.

“Kenapa tidak Fraidé saja?” kenang Gie, vokalis band itu, sambil tersenyum.

Dan benar saja, Fraidé jadi rumah baru bagi mereka berempat. Sebuah ruang aman untuk mengekspresikan kegelisahan, rasa syukur, dan refleksi hidup. Walau mereka mengusung pop sebagai genre utama, bukan berarti mereka bermain aman. Justru dentuman distorsi dan pengaruh rock alternatif 90-an seperti The Cranberries, The Cure, atau The Smashing Pumpkins masih terasa kental di aransemen mereka.

Alih-alih merilis satu lagu sebagai pengenalan, Fraidé justru mengambil langkah berani: langsung memperkenalkan diri lewat sebuah mini album berjudul Reflection. Empat lagu sekaligus, satu perjalanan emosional yang utuh.

“Setiap lagu di ‘Reflection’ terhubung satu sama lain,” ujar Gie. “Ini bukan kumpulan single acak. Ini adalah kisah.”

Dari lagu pertama hingga keempat, pendengar diajak menelusuri perjalanan batin yang begitu personal. Bukan hanya milik Gie atau Gilang, tapi bisa jadi milik siapa saja yang pernah merasa ragu, kehilangan arah, dan akhirnya menemukan kembali makna hidup.

Lagu utama, Reflection, lahir dari perjalanan solo Gie ke luar negeri. Dalam keheningan, ia mendengar kembali suara-suara dalam dirinya. Musik, ternyata, bukan sekadar hobi atau pilihan hidup. Musik adalah bagian dari dirinya yang tak bisa dipisahkan.

“Reflection adalah simbol kesempatan kedua,” katanya. “Untuk saya dan teman-teman, ini momen untuk memulai kembali, dengan jujur.”

Lagu kedua, Y&G (Yellow and Green), membawa nuansa sendu — seperti berjalan di tengah kabut ketidakpastian. Tapi seperti warna kuning dan hijau, ada harapan yang tumbuh pelan-pelan di dalamnya. Lalu masuklah lagu Déjà Vu, yang bicara tentang cinta kepada diri sendiri. Kadang kita lupa bahwa versi terbaik dari diri kita sudah lama ada, menunggu untuk dikenali kembali. Terakhir, lagu Is Love menutup EP ini dengan perayaan. Tentang cinta yang selalu ada, tapi sering tak kita lihat. Dan bagaimana cinta itu menjadi terang saat kita mulai menerima diri sendiri sepenuhnya.

Semua lagu dalam EP ini berbahasa Inggris. Bukan karena ingin tampil keren atau meniru tren, tapi karena sejak awal, Fraidé ingin musik mereka menjangkau lebih luas. Lirik-lirik awalnya ditulis oleh James Seddon, pasangan dari Gie, lalu disesuaikan bersama agar pas dengan emosi dan musik yang mereka bangun. Prosesnya berjalan alami. Bahasa hanyalah medium. Rasa adalah jantung dari semua itu.

“Yang kami jual bukan cuma musik,” tegas Gilang. “Tapi pengalaman emosional.”

Karena bagi Fraidé, lagu yang menyentuh hati akan tinggal lebih lama. Dan dari situlah mereka merasa telah menyampaikan sesuatu yang benar-benar berarti.

Proses rekaman pun dijalani di dua tempat: Abel Studio dan Neverland Studio, dengan mixing-mastering ditangani oleh Bayu Randu. Hasilnya bisa didengarkan sejak 18 Juli 2025 di Spotify, Apple Music, dan kanal digital lainnya. Sementara video liriknya juga tayang di kanal YouTube resmi mereka.

Tapi perjalanan Fraidé belum selesai.

Mereka sudah merencanakan live performance, membuat konten visual, dan bahkan sedang menyusun materi untuk album penuh tahun depan. Karena bagi mereka, ini bukan sekadar band. Ini adalah rumah, tempat cerita-cerita lama dihidupkan kembali — dalam bentuk nada, lirik, dan irama yang mengalir dari hati.

Dan setiap hari Jumat, di sela kesibukan dunia nyata, mereka kembali bertemu. Bermusik. Bermimpi. Menjadi Fraidé.

WhatsApp
Facebook
Twitter
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya