Di suatu malam yang tenang di Yogyakarta, Jono Terbakar duduk seorang diri.
Pikiran dan hatinya seperti diselimuti kabut—bukan karena hujan, tapi karena sebuah perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa. Maka ia melakukan satu-satunya hal yang paling ia percaya bisa menyembuhkan luka: membuat lagu.
Tanpa rencana panjang atau sketsa rumit, notasi demi notasi mengalir dari kepalanya. Malam itu juga, sebuah melodi sederhana tapi menyentuh hati tercipta. Keesokan paginya, Jono menuliskan liriknya. Tak muluk, tak rumit—hanya tentang perasaan ditinggalkan seseorang yang sangat berarti. Lagu itu diberi judul: “WIS”.
“Pengen bikin lagu aja tiba-tiba,” ujar Jono, yang nama aslinya adalah Nihan Lanisy, “liriknya juga ingin melagukan kesedihan ditinggal seseorang dalam hidup.”
Prosesnya tak seperti kebanyakan musisi yang butuh waktu berminggu-minggu. Lagu ini lahir hanya dalam semalam. Setelah direkam lewat ponsel pintarnya, Jono langsung mengandalkan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu proses mastering. Tak butuh lama, “WIS” langsung dirilis melalui Jonotify, layanan distribusi digital miliknya sendiri.
Bagi Jono, yang sudah melahirkan lebih dari 30 album sepanjang kariernya, lagu ini bukan tentang mencari popularitas. Ia hanya ingin menyampaikan rasa, dan jika mungkin, menyembuhkan luka orang lain.
“Ya gak muluk-muluk,” ujarnya dengan nada tenang. “Semoga lagu ini bisa jadi obat buat orang-orang yang sedang bersedih.”
Sebagai staf pengajar di kesehariannya, Jono tak buru-buru membuat rencana besar ke depan. Tak ada rencana album baru—ia memilih untuk menyerahkan semuanya pada waktu, dan tentu saja, pada Tuhan.





