Kembalinya Para Pembawa Karnaval, Auretté and The Polska Seeking Carnival

2010, mulai memasuki Jogja untuk melanjutkan study disalah satu kampus negeri di Jogja. Sejak itu pula, aku sendiri mulai ikut dalam UKM radio kampus untuk mengisi kekosongan kegiatan setelah perkuliahan. Dari sinilah muncul banyak nama baru yang tidak pernah terdengar saat masih di kota kelahiran, Wonosobo. Seperti memasuki belantara yang penuh dengan harta karun tersembunyi. Nama-nama seperti Jenny, Answersheet, Savior, Super Mario Bros, Serigala Malam, Everyday, Sangkakala dan masih banyak lagi mulai bermunculan dalam playlistku. Dan salah satu yang menarik perhatianku adalah teman-teman dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, Aurette and the Polska Seeking Carnival

Dari namanya saja sudah terlihat bagaimana uniknya band ini. Mereka membawa gaya yang “aneh”, folk pop dikombinasi sound Balkan‑Polska, swing, reggae, hingga elektronik. Konsep karnaval dengan banyak instrument, menguatkan wajah “carnival band” dari unit musik Jogja ini. Bayangkan, bagi orang sepertiku yang lebih banyak terpapar sound Peterpan, D’masiv, Radja, atau band lain dengan instrument konvensional, melihat akordeon, ukulele, gitar, trumpet dan trombone, hingga alat perkusi seperti conga dan glockenspiel serta looping dalam sebuah satuan band, tentu membuatku geleng-geleng kepala. Ajaib.

Aurette and the Polska Seeking Carnival sering disingkat AATPSC merilis debut album di tahun 2013 dengan judul “Self Titled”. Berisi 7 lagu, Album ini dirilis dengan 2 format (selain yang ada di DSP sekarang) yaitu Kaset Pita dan juga Cakram Padat. Sambutan debut mereka sangat baik dengan penjualan rilisan fisik kaset ataupun vinyl yang ludes. Penasaran dengan rilisan ini, aku sempat mencari-cari di google, dan menemukan akun yang menjual vinyl mereka dengan harga $90 atau sekitar 1,4jutaan rupiah. 

Aku sendiri mengenal mereka melalui satu lagu dengan judul yang juga ajaib di album “Self Titled”, Wonderland. Sering diplesetin Sewonderland, karena latar belakang kampus personil mereka, ISI (institut Seni Indonesia) Jogja yang berada di daerah Sewon, Bantul. Semua instrument yang tertulis di atas, diracik sedemikian rupa dalam lagu ini. Tidak saling menutupi, tapi terasa berdampingan setiap suara intrument berbunyi. Tapi yang disayangkan, aku sendiri belum menyaksikan penampilan mereka secara live, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk hiatus di tahun 2014, setahun setelah debut album mereka.

Mencari tahu sebab kenapa mereka hiatus. Jawabannya yang muncul normatif, kesibukan masing-masing personil.

Warna Baru Setelah Hiatus

Nama mereka masih menjadi buah bibir selepas mereka mengumumkan hiatus. Berselang 2 tahun, mereka mengumumkan untuk kembali. Membawa format yang sama tapi menurutku pribadi memiliki warna yang berbeda terkhusus di single terbarunya setelah comeback.

Lagu itu berjudul “Melerai Lara”.

Dimulai dengan suara ukulele, suara vocal Dhima Cristian Datu yang lebih deep, tapi tetep dengan nuansa karnaval dari tiupan tropet dan trombone yang megah namun menyayat. Lagu cinta yang tidak biasa, karena menceritakan seorang transgender yang menjadi korban kekerasan. 

Pertama mendengar lagu ini, aku langsung merasa akan ada yang berbeda dari musik mereka. Dan benar, gebrakan mereka ada di album barunya bertajuk Bloom. Kali ini, musik mereka berevolusi dengan lebih banyak unsur elektronik, loop, dan sampling. Di album pertama lebih banyak lirik berbahasa inggris, sedangkan di album ini beberapa lagu mulai ditulis dalam bahasa Indonesia, dan tema yang diangkat lebih personal: tentang kesehatan mental, keresahan generasi muda, hingga nostalgia masa kecil.

Aku bersama bandku (Olski) juga sempat sepanggung dengan Aurrete, dan melihat karnaval mereka yang sungguh menyenangkan dan megah, sebelum akhirnya mereka mulai hilang lagi dari radar gigs dan konser-konser.

Comeback Kedua dan Harapan Baru

Setelah kembali meredup usai Bloom, kabar menggembirakan datang pada akhir 2024. AATPSC diumumkan sebagai salah satu line-up di Cherrypop Festival 2025. Banyak yang menyebut ini sebagai comeback kedua mereka. Di atas panggung Cherrypop nanti, mereka berjanji akan membawa lagu-lagu lama, materi baru, dan konsep panggung yang lebih gila dari sebelumnya.

Para penggemar yang dulu tumbuh bersama musik mereka kini menunggu, bertanya-tanya, seperti apa warna musik karnaval ini sekarang? Apakah masih penuh balon, topeng warna-warni, dan akordeon ceria? Atau kini berubah lebih gelap, introspektif, namun tetap memikat? Yah, akupun menantikan hal tersebut dengan sukacita, dan semoga kamu yang juga bertumbuh dengan mereka juga merasakan hal yang sama, serta merayakan kembalinya para pembawa karnaval, Auretté and The Polska Seeking Carnival.

WhatsApp
Facebook
Twitter
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya